Sebagai seorang pionir dan penggerak revolusi, dia dipaksa meninggalkan rakyatnya. Dia menggambarkan dirinya bagai elang yang dipotong sayapnya. Di penjara di sebuah pulau pengasingan yang tak tentu kapan berakhirnya. Bayangkan, betapa sengsaranya batin seorang Sukarno. Bukan saja raganya yang kini dihempaskan jauh, namun spirit dirinya yang hendak dimatikan. Dimatikan secara pelan-pelan selama 5 tahun.
Di masa awal berada di 'penjara terbuka' itu dia merasa puncak penganiayaan karena kesepian dan ketiadaan kawan untuk berdiskusi. Orang-orang di pulau itu juga bahkan dilarang untuk berinteraksi dengannya. Salah satu pelarian Sukarno adalah duduk di bawah pohon dan menghadap ke teluk. Menatap ke lautan lepas, seorang diri dalam himpitan pikiran yang kalut dan gelisah. Betapa menderitanya. Bukan fisik Sukarno namun jiwanya yang lebih menderita.
Selama di pengasingan pikirannya berontak dan tak padam sebagaimana tujuan awal Belanda membuang Sukarno di tempat itu. Walaupun jasadnya terdampar di pulau yang gersang itu namun pikirannya terbang menjelajah. Tetap berpikir untuk menuntaskan revolusi.
Kita tahu kemudian, seusai masa pembuangan itu, pikiran dan semangat perjuangan Sukarno malah makin kuat dan makin kokoh walaupun telah melewati masa-masa yang sulit. Dia mampu mempertahankan spirit dan pikirannya meneruskan perjalanan revolusi yang belum selesai.
Andaikan saat di pengasingan Sukarno menyerah atas keadaan yang dideritanya, mungkin kita takkan mengenal Sukarno seperti yang terukir dalam sejarah.
Hari ini sejenak belajar dari seorang negarawan seperti Sukarno, bagaimana dia menjaga spirit pikirannya agar tetap berkobar, melanjutkan cita-cita yang dia perjuangkan.
"Setiap orang adalah produk dari pikirannya sendiri. Maka percayalah akan hal-hal yang besar. Percayalah akan kebesaran dan tumbuhlah dalam kebesaran". Thingking Big.
Batam, Mei 2016
← Kembali ke semua tulisanAyah & Keluarga
SAAT SUKARNO DIBUANG 5 TAHUN
2016-05-18 · Dari arsip Catatan Marhaban