Beberapa bulan yg lalu saya menonton film Filosofi kopi. Bercerita tentang dua orang rekan yang berjibaku membangun idealisme cafe 'Filosofi Kopi' mereka agar tetap tetap pada jalur aroma si maestro kopi.
Nah... klo Coto apa pula ya filosofinya? Sebagai orang rantau di Batam, coto adalah sebuah ungkapan kerinduan. Coto adalah kenangan indah tentang Makassar/ Sulsel. Coto adalah gairah dalam peluh. Coto adalah persahabatan.
Kerinduan. Makin jauh kita dengan tanah kelahiran maka makin rindu kita untuk pulang. Makin lama kita tak pulang kampung maka makin kuat tarikan kenangannya. Nah... untuk melepas rindu yg tak terobati maka coto lah pelampiasannya. He... efeknya adalah, "tambah semangkok lagi mas, eh... daeng". Maklum, ini di kampung orang.
Kenangan. Coto adalah makanan yg melekat dgn kota Makassar atau Sulsel pada umumnya. Jika jalan2 ke Makassar, belum lengkap sebelum merasakan makanan ini. Ada banyak restoran atau rumah makan yg khusus menjual Coto. Beberapa yg cukup terkenal seperti Coto Ranggong, Coto Gagak, Coto Pettarani, Coto Dewi, Coto Karaeng, Coto Latimojong, Coto Paraikatte, Coto Daeng Bagadang dll.
Gairah. Bahan utama dari coto adalah daging. Klo bumbu-bumbunya maksimal, bahannya bisa sampe sekitar 40 macam. Wuih... Kalah sama menu khas ya cina cap cay. Cap cay cuma 9. He... Tapi katanya asal muasal coto ada juga inspirasi dari menu cina. Entahlah..
Persabatan. Klo ini, singkat saja. Coto Makassar yang paling nikmat, paling enak, paling spesial dan ga ada duanya adalah coto yg dinikmati di tanggal tua, kiriman belum datang atau dompet lagi tipis, tugas kuliah menumpuk dan ada teman yang ngajak keluar malam. Tujuannya sangat pasti dan lokasinya spesifik. Rumah Makan Coto Makassar. Ditraktir. Inilah persahabatan....Wk...wk...
Nah yg lagi di Batam, dan ingin melampiaskan kerinduan Tanah Daeng alias Makassar ada di Ruko dekat Simpang Yamaha, Sagulung. Rasanya? Mmmm..... tak usah ditanya. Istri saya yg bukan orang Makassar saja mampir lagi semalam, beli dua mangkuk, komplit dengan ketupat dan burasa' nya. Harganya? Klo sudah 'rindu' tak akan nanya harga lagi. He...
Ps: Filosofi coto belum ada filemnya, siapa tau ada produser yg baca, coba dulu cotonya, biar lebih meresapi maknanya. 😊
Salam dari rantau.← Kembali ke semua tulisan