Anakku. Ada sebuah kisah dalam Surah Al-Kahfi yang selalu membuat Abi merenung. Kisah tentang dua orang laki-laki yang berbeda jalan hidupnya. Bukan sekadar kisah lama, tapi cermin untuk kita hari ini.
Kebun yang Membuat Lupa
Bayangkan ada seorang laki-laki yang diberi Allah kebun yang sangat indah. Pohon-pohon kurma menjulang, anggur bergelantungan, dan di tengahnya ada sungai yang jernih mengalir. Setiap kali ia masuk, ia merasa aman. Ia berkata dengan bangga:
“Aku lebih kaya darimu, aku lebih kuat darimu. Kebunku ini tak akan hancur. Bahkan kalau aku kembali kepada Tuhan, aku yakin akan dapat yang lebih baik lagi.”
Hatinya penuh rasa percaya diri, tapi sayang—percaya diri yang salah arah. Ia lupa bahwa semua itu adalah titipan Allah.
Teman yang Mengingatkan
Di sisi lain, ada temannya. Ia tidak punya harta sebanyak itu. Kebunnya tidak seindah itu. Tapi hatinya lapang, penuh iman. Dengan lembut ia berkata:
“Kenapa engkau tidak berkata MasyaAllah, la quwwata illa billah? Semua ini milik Allah. Kalau Dia mau, Dia bisa menghancurkan kebunmu, dan memberi aku sesuatu yang lebih baik.”
Tapi nasihat itu diabaikan.
Hari Kehancuran
Lalu datanglah hari yang tidak pernah ia sangka. Kebunnya hancur, airnya kering, pohon-pohonnya mati. Semua yang dulu ia banggakan lenyap. Ia hanya bisa meremas tangannya, menyesal, tapi penyesalan itu terlambat.
Apa Artinya untuk Kita?
Anakku, kisah ini bukan sekadar cerita tentang dua orang di masa lalu. Mereka adalah cermin.
- Pemilik kebun itu bisa siapa saja—orang yang merasa aman dengan harta, jabatan, atau teknologi, tapi lupa Allah.
- Sahabat yang beriman itu juga bisa siapa saja—orang yang sederhana, tapi hatinya selalu kembali kepada Allah.
Hari ini, “kebun” bukan lagi pohon kurma dan anggur. “Kebun” bisa jadi tabungan di bank, rumah besar, gadget terbaru, followers yang banyak, atau pekerjaan yang terlihat aman. Semua itu bisa bikin hati merasa kuat… tapi semua bisa hilang kapan saja.
Pelajaran untukmu, Nak
Abi ingin kau selalu ingat tiga hal dari kisah ini:
- Syukur sekecil apa pun nikmat yang kau punya. Katakan Alhamdulillah, meski hanya dapat hal sederhana.
- Rendah hati meski punya lebih. Jangan sampai harta atau kelebihan membuatmu memandang rendah orang lain.
- Sandarkan hati hanya pada Allah. Dunia ini fana. Yang kekal adalah ridha Allah dan surga-Nya.
Penutup
Anakku, dunia ini hanyalah kebun sementara. Kebun yang bisa indah, bisa membanggakan, tapi juga bisa hancur sekejap. Kebun yang sejati ada di akhirat—kebun yang Allah siapkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.
Abi menuliskan ini sebagai pengingat, bukan hanya untukmu, tapi juga untuk diriku sendiri. Semoga kita bukan termasuk orang yang terlena dengan kebun dunia, tapi menjadi orang yang menanam pohon-pohon amal untuk kebun akhirat.
(Ide: penulis/ Content: AI)
