Untuk Muadz, Anakku.

Saat kamu nanti membaca surat ini, mungkin kamu sudah besar. Tapi waktu Abi menulis ini, kamu masih umur 3 tahunan. Masih suka bertingkah lucu, masih sering bikin rumah berantakan, dan kadang bikin Abi dan Ummi kehabisan tenaga untuk merapikan mainanmu.

Muadz, kamu sering bikin rumah berantakan seperti kapal habis terhempas badai. Mainan bertebaran di mana-mana, suara tawa dan teriakanmu mengisi setiap sudut rumah. Kamu sering susah kalau disuruh makan, tapi semangat kalau main air dan gelembung sabun. Susah berhenti nonton YouTube, hingga males kalau disuruh tidur. Hingga kadang harus tarik-tarikan gadget.

Kadang Abi dan Ummi merasa lelah. Kadang kami merasa kewalahan. Kadang merasa seperti diuji jadi orang tua yang sabar.

Ada hari-hari di mana kami berpikir, "Apa kami ini orang tua yang baik?" Karena ada saatnya kamu marah-marah tak jelas, suka ngambek kalau nggak dibelikan mainan, padahal mainan di rumah sudah banyak menumpuk.

Tapi, Nak… meskipun kamu bisa bikin kami pusing tujuh keliling, ada momen-momen kecil yang membuat hati Abi dan Ummi meleleh.

Seperti waktu kamu tiba-tiba bilang, “Terima kasih, Abi, Ummi”
Atau waktu kamu bilang, “Abi, sudah Adzan. Ayo ke Masjid.”
Atau waktu kamu bantu Ummi bereskan mainanmu sendiri tanpa disuruh lagi.

Itu momen kecil, tapi rasanya seperti sinar matahari yang hangat di pagi hari.

Abi dan Ummi belajar, bahwa menjadi orang tua bukan soal mengharapkan kesempurnaan darimu. Tapi soal mencari dan merayakan kebaikan kecil yang tulus dan polos. Juga soal bagaimana tega dan bersabar dengan semua keinginan yang tak mesti harus kami penuhi.

Kami mencoba melihat setiap momen sebagai anugerah. Kami berusaha tidak hanya mengoreksi saat kamu salah, tapi juga memuji saat kamu melakukan hal yang baik.

Karena itulah cara terbaik yang menurut kami untuk mengarahkanmu agar bisa belajar dan bertumbuh menjadi anak yang sholeh.

Nak, suatu hari nanti kamu juga pasti akan menjadi orang tua. Kamu juga akan merasa lelah. Akan merasa tidak cukup waktu. Tapi ingatlah...

Tidak ada anak yang sempurna. Dan tidak ada orang tua yang sempurna. Ini adalah ladang belajar untuk mencintai, menghargai dan menyukuri anugrah Allah.

Dan saat kamu membaca surat ini nanti, Abi dan Ummi ingin kamu tahu, betapa beruntungnya kami diberikan engkau, Anakku sebagai anugrah dari Allah.

Setiap anak tentu punya keistimewaan. Dan setiap tingkah lucu dan keunikanmu akan menjadi ‘tabungan rindu’ di setiap momen. Terlebih saat engkau sudah besar nanti dan menjalani kehidupanmu sendiri.

← Kembali ke semua tulisan