Ayah & Keluarga
Kisah Ibu Penjual koran
2010-09-15 · Dari arsip Catatan Marhaban
Karena trenyuh mendengar kata-kata ibu itu dan melihat penampilannya yang menghiba hati, aku menawarkan tuk ikut makan di warung itu. "Ikut makan sama saya saja Bu. Nanti saya yang bayar." Ibu itu nampak ragu. Sekali lagi aku tawarkan. Tapi nampaknya masih enggan. "Kenapa Bu?". "Anak saya nanti makan apa, Nak?" Diikuti senyum kecil dari ibu tersebut. Masya Allah, ucapku dalam hati. Ibu ini tak ingin makan sendiri dan memikirkan anaknya dirumah. Dia sepertinya hanya berharap agar korannya dibeli sehingga ada uang untuk membeli makan. Hatiku terasa terobok-obok dan tiba-tiba teringat orang tuaku. Teringat akan ibuku.
Seketika itu juga aku borong lima buah koran yang harganya tak seberapa itu dan kupesankan lima bungkus nasi untuk ibu itu. Aku rasanya menyaksikan kemahakuasaan Allah atas rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Allahu Akbar.
NB: Mari mendoakan orang tua kita dan orang-orang yang kita cintai untuk segala kebaikannya. (Cerita nyata dari seorang kawan sore tadi)← Kembali ke semua tulisan